June 15, 2024

British Council Indonesia, UN Women Indonesia, dan Rumpun berkolaborasi dalam menyelenggarakan We Learn: The Together Digital Programme, sebuah program yang bertujuan untuk membangun kapasitas pengusaha perempuan dalam bisnis UMKM pada sektor kriya.

1. We Learn: The Together Digital Programme

We Learn: The Together Digital Programme adalah hasil kolaborasi Divisi/Program Seni dan Industri Kreatif British Council Indonesia, UN Women Indonesia dan Rumpun. Kolaborasi ini berbentuk program pelatihan atau workshop yang diadakan kepada perempuan pelaku kriya ataupun yang terlibat dalam proses penciptaan kriya.

Workshop telah diadakan pada tanggal 18-21 Juli 2022 di Acibara Coffee, Kota Mataram, Lombok. “Lombok dipilih untuk menjadi tempat pelaksanaan workshop karena Lombok tidak hanya menjadi sentra pariwisata saja, tetapi Lombok juga memiliki potensi yang besar dalam industri kriya, mulai dari tenun, mutiara, anyaman bambu, anyaman rotan, dan masih banyak lagi,” ujar Pertiwi Triwidiahening, selaku National Programme Officer Women Entrepreneurship UN Women Indonesia.

Dalam workshop ini peserta dibimbing oleh trainer-trainer dari Rumpun. Mulai dari mengulik visi dan misi bisnis, menentukan audience, pemasaran, cara mengelola keuangan, inovasi produk ramah lingkungan, hingga menyadari pentingnya kesetaraan gender.

2. Kolaborasi antara British Council Indonesia, UN Women Indonesia, dan Rumpun

British Council Indonesia adalah organisasi dari Inggris yang membangun koneksi, pemahaman, dan kepercayaan antara Inggris Raya dengan negara-negara lainnya di dunia melalui seni, kebudayaan, pendidikan, dan bahasa inggris. Sedangkan, UN Women adalah suatu badan dari PBB yang berkomitmen untuk pemberdayaan perempuan dan kesetaraan gender.

Dalam realisasinya, kedua organisasi tersebut bekerja sama dengan Rumpun Consulting sebagai mitra lokal dalam penyelenggaraan acara. Rumpun adalah organisasi yang bergerak dalam bidang riset, pelatihan, dan pengembangan produk di sektor kriya, seni rupa, museum, dan industri kreatif yang berhubungan dengan seni.

Menurut Aprina Murwanti, selaku Co-Founder Rumpun, kolaborasi yang dihadirkan oleh ketiga organisasi yang terlibat berupa modul pembelajaran fisik maupun digital. Isi konten modul dihadirkan dengan konteks lokal sehingga pelatihannya tepat guna dan sesuai kebutuhan.

3. Modul dan konten pembelajaran The Together Digital Workshop

Pada workshop ini terdapat 4 modul pembelajaran yang diberikan kepada peserta, yaitu: Modul Setara Berdaya, Modul Agenda Usaha, Modul Reka Kriya, dan Modul Laris Manis.

Empat modul tersebut disusun dari tiga organisasi yang terlibat. Pertama, British Council yang memiliki toolkit pengembangan bisnis kriya yaitu Digital Craft Toolkit. Toolkit ini diimplementasikan pada Modul Agenda Usaha, Reka Kriya, dan Laris Manis. Kedua, UN Women yang memiliki toolkit terkait gender equality yang disampaikan melalui Modul Setara Berdaya. Terakhir, Rumpun yang menerjemahkan modulnya ke dalam konteks lokal dan menyampaikannya dalam workshop.

Deskripsi terkait 4 Modul dapat dijelaskan sebagai berikut:

  • Modul Setara Berdaya adalah modul yang membahas tentang kesetaraan gender dan kepemimpinan perempuan serta dampaknya dalam kegiatan bisnis.
  • Modul Agenda Usaha, terkait dengan bagaimana merencanakan usaha dalam waktu satu bulan sampai satu tahun kedepan. Disini peserta diminta untuk membuat rencana satu tahun kedepan, tujuannya jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang untuk bisnisnya.
  • Modul Reka Kriya berisi pengembangan produk dari segi medium, warna, artistik, dan melibatkan unsur-unsur ramah lingkungan di dalam modul tersebut.
  • Modul Laris Manis, merupakan modul yang membahas pemasaran dan pengembangan bisnis untuk mendapatkan konsumen yang sesuai dengan pasar.

4. Digital Craft Toolkit

Berawal dari program global Crafting Futures, yang berfokus pada pengembangan kriya di lebih dari 20 negara termasuk Indonesia. British Council Thailand bersama Applied Arts Scotland kemudian menyusun toolkit yang berfokus pada pengembangan bisnis kriya yang mengeksplor bisnis dari sisi keuangan dan kreativitas bisnisnya.

Awalnya toolkit ini hanya ada dalam Bahasa Inggris dan Bahasa Thailand, tetapi dengan adanya antusiasme secara global, materinya juga diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia pada tahun 2021.

Dalam Digital Craft Toolkit ini terdapat beberapa materi sebagai pemantik diskusi, dari beberapa hal yang belum terpikirkan saat membangun usaha kriya. Harapannya peserta dapat men-challenge lagi kreativitasnya, dengan fitur product random generator. Fitur ini menyediakan beberapa kata kunci mulai dari warna hingga perayaan hari besar tertentu untuk mengajak peserta berpikir tentang produk apa yang bisa sesuai dengan kriteria seperti itu.

Tidak hanya itu, toolkit ini juga membahas isu keberlanjutan yang terjadi pada pelaku kriya, seperti limbah yang tidak sesuai tempat dan pemakaian plastik dalam jumlah besar untuk packaging. “Ada modul sustainable juga sehingga para pelaku kriya bisa lebih peduli terhadap produknya dan bisa disampaikan dengan baik,” ujar Viandira Athia Mulyono, selaku Arts Programme Manager British Council Indonesia.

Untuk informasi selengkapnya, Sobat bisa mengunjungi langsung website Digital Craft Toolkit.

5. Perempuan dalam Usaha Kriya

Sektor kriya merupakan sektor yang penting dikalangan wirausaha perempuan, karena jumlah wirausaha perempuan di sektor kriya menempati kedua terbanyak dari total peserta pelatihan yang diadakan oleh UN Women.

Namun, saat menjalankan usaha kriya perempuan dihadapkan dengan permasalahan gender yang kerap tidak disadari. Hal ini menyebabkan pengembangan usahanya terhalangi dikarenakan adanya beban ganda atau multi ganda.

Beban ganda dapat diartikan sebagai tuntutan perempuan untuk bisa tetap menangani semua pekerjaan rumah tangga bersamaan dengan melakukan usaha kriya. Akhirnya jam kerja menjadi panjang, kurang istirahat, kesehatan reproduksi terganggu, angka keguguran tinggi, serta kelelahan yang berlebihan.

“Modul kesetaraan gender ini penting karena masih banyak sekali ketidakadilan dan ketimpangan terhadap perempuan yang tidak disadari dan ternyata sangat berpengaruh terhadap usaha, tidak hanya di Lombok saja. Contohnya bisa kita tarik dari sikap adil ke kepemilikan, sampai memahami kesetaraan gender sehingga bisa berbagi peran. Kita mendukung perempuan untuk bisa tetap berkarya dan punya penghasilan walaupun sudah berkeluarga,” ujar Aprina.

6. Kesan peserta yang telah mengikuti workshop

Bu Lin merupakan salah satu peserta yang berasal dari Lombok Timur dan memiliki usaha daur ulang sampah. Beliau sangat mengapresiasi akan adanya workshop ini. 

“Selain materi tentang pengembangan produk, ide kreatif dan operasional usaha, terdapat materi yang baru saya dapatkan yaitu tentang masalah gender yang memiliki dampak pada kelangsungan usaha kriya yang mayoritas pelakunya adalah perempuan,” ujar Bu Lin.

7. Harapan setelah mengikuti workshop

Output yang diharapkan dari pelaksanaan workshop ini adalah bertambahnya skill peserta dalam menjalankan bisnis kriyanya. Peserta bisa menjadi lebih inovatif membuat produk, menggunakan produk ramah lingkungan, dan bisa mengelola keuangan lebih baik dari segi bisnis.

Dengan adanya Modul Setara Berdaya, diharapkan perempuan-perempuan yang bekerja di bidang kriya dapat menyuarakan opininya dalam menjalankan bisnis kriya agar tidak menjadi beban ganda.

“Melalui workshop ini diharapkan pelaku kriya perempuan menyadari masalah yang terjadi karena ketidakadilan gender dan diberikan metode atau tools untuk mengatasinya sehingga berbagi bebannya lebih mudah,” ujar Pertiwi Triwidiahening.

TERIMAKASIH!

Terimakasih kawan telah membaca hingga akhir artikel, semoga informasi yang kami berikan dapat memberi informasi mengenai perkembangan pariwisata Indonesia. Sampai jumpa di artikel berikutnya!

Jika kawan Travbuck membutuhkan guide, informasi, maupun kendaraan, jangan segan untuk menghubungi kami di media sosial kami ya! jangan lupa untuk selalu cek artikel terbaru kami.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *